Skip to main content

Kontribusi Penari Dewa Memanah Dalam Budaya Kutai

Makna Ritual Bepelas Dalam Pembentukan Self-Concept dan Self-Enhancement

Kontribusi Penari Dewa Memanah Melalui Ritual Bepelas Dalam Budaya Kutai

Ditulis oleh Muhammad Rayhan Agda Ramadahan, Achmad Noor Ihza Yudistira, Mulik Rohmati, Fazni Datullaila Muzzaki, Afriyani Mentaruk · Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
Ilustrasi Tari Dewa Memanah
Ilustrasi: Tarian tradisional sebagai simbol penghormatan dan kepercayaan dalam budaya lokal.
Yuk Kenali Sejarah Singkat Etam

Asal usul nama Kutai sebenarnya dibentuk berdasarkan letak suatu daerah yang mengarah pada lokasi penemuan prasasti Yupa di wilayah Kesultanan Kutai. Kutai Adat Lawas merupakan sebuah nama yang sekarang biasa dikenal dengan suku Kutai. Kutai merupakan salah satu suku Melayu tua. Menurut Poesponegoro dan Notosusanto (2008), nama ini sudah digunakan oleh para peneliti sejak zaman kolonial Belanda sebagai Kerajaan Dinasti Mulawarman dan sebagai wujud nyata bahwa suku Kutai sudah lama dikenal sebagai pusat kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Kalimantan Timur.

Hingga saat ini, suku Kutai masih menjaga dan melestarikan adat yang telah diwariskan secara turun menurun. Upacara Erau sebuah festival adat dari Kesultanan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang merupakan warisan budaya yang diwariskan hingga saat ini. Antusias yang luar biasa masyarakat lokal atapun non lokal ikut serta memeriahkan festival dan memiliki makna mendalam di setiap prosesinya. Bepelas menjadi salah satu rangkaian ritual sakral pada acara Erau sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan sebagai wadah menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan nilai leluhur yang diyakini berasal dari dewa dan roh nenek moyang.


Ilustrasi
Menjaga Tradisi dan Menemukan Jati Diri

Budaya pada masyarakat Kutai saat ini sedang menghadapi tantangan besar yaitu dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat yang dapat membuat generasi selanjutnya semakin jauh dan asing dengan tradisinya sendiri. Kejadian ini dapat menimbulkan kehilangan identitas diri dan budaya yang memiliki efek langsung pada konsep diri atau self-concept. Ketika seseorang kehilangan arah tentang siapa dirinya dan prinsip apa yang diyakini, maka seseorang tersebut memiliki kecenderung kehilangan prinsip hidup. Pada situasi seperti ini, kepercayaan dirinya tidak stabil sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan dan akhirnya sulit untuk memutuskan tujuan penting sesungguhnya.

"peristiwa ini berhubungan dengan kebutuhan seseorang agar merasa berharga dan diakui oleh masyarakat sekitar atau yang disebut sebagai self-enhancement. Adat istiadat seperti ritual Bepelas menjadi bukti nyata warisan leluhur yang dapat menjadi wadah untuk memperkuat identitas diri masyarakat dengan ikut secara langsung dalam upacara adat maka seseorang dapat merasakan hubungan kejiwaan dan sosial yang mendalam sekaligus mendapat penerimaan dari lingkungannya." – Menurut Sedikies & Gregg (2008)

Aspek terpenting dalam prosesi Bepelas adalah Tari Dewa Memanah yang merupakan suatu tarian sakral yang dipersembahkan oleh penari perempuan dengan busur dan anak panah bercabang tujuh. Tarian ini tidak hanya sebuah pentas seni tetapi sebagai lambang perlindungan, penghormatan kepada alam dan para leluhur, serta posisi sosial yang berisi nilai nilai penting. Artikel ini akan membahas lebih jauh tentang makna dan simbol dalam Tarian Dewa Memanah tidak hanya berfokus kepada menjaga tradisi, namun sebagai wadah pembentukan self-concept dan self-enhancement bagi penari yang telah berkontribusi.


Ilustrasi
Bagaimana Cara Kita Melihat Diri?
"Self-concept adalah gambaran diri yang berasal dari kombinasi cara bagaimana kita memandang diri sendiri, wujud diri yang diharapkan, dan bagaimana kita meyakinkan orang lain melihat kita." – Burns, 1993

Lebih jelasnya yaitu, self-concept tidak dibangun oleh penilaian internal tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi sosial, sehingga seseorang cenderung membentuk citra dirinya berdasarkan umpan balik, pengakuan atau penolakan dari lingkungan disekitarnya. Pada warisan budaya masyarakat Kutai seperti Tari Dewa Memanah yang di mana penari merupakan peran yang penting dari ritual Bepelas. Seorang penari yang diberikan peran untuk menampilkan tarian ini tidak hanya menjalankan kewajiban adat, tetapi juga diakui dan dihargai keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Penerimaan dan pengakuan yang diberikan lingkungan sosial membuat penari semakin yakin dengan peran dan jati dirinya yang secara bersamaan menguatkan citra diri yang di bangun sesuai dengan nilai-nilai yang telah diyakini.

Bagaimana Kita Membuat Diri Lebih Baik?

Self-enhancement berdasarkan pada kecenderungan seseorang untuk melihat dan menilai dirinya secara positif. Menurut Weinstein, 1980 & Blaine and Crocker, 1993 menjelaskan bahwa banyak individu cenderung merasa dirinya lebih baik dibandingkan orang lain. Hal ini tidak hanya sebuah kesombongan tetap bagian dari cara kerja alami untuk mempertahankan rasa percaya diri dan harga diri dalam menghadapi tekanan sosial ataupun tantangan hidup. Motivasi untuk merasakan berarti, dihargai, dan memiliki peran yang penting di tengah masyarakat menjadi bagian penting dalam proses ini. Dalam kehidupan sehari-hari yang di mana self-enhancement muncul saat seseorang mendapat kepercayaan dalam memegang tanggung jawab yang dianggap mulia dan penting. Saat seseorang terpilih menjadi peran adat yang sakral seperti penari Dewa Memanah maka rasa dipercaya itu bukan hanya memberi kebanggaan, tetapi juga memperkuat pandangan positif terhadap diri sendiri.


Ilustrasi
Makna Sakral di Balik Ritual Bepelas

Dalam tradisi atau budaya masyarakat Kutai, ritual Bepelas berperan sebagai salah satu rangkaian penting Erau, sehingga beperan lebih penting daripada sekedar menjadi bagian dari pembukaan budaya yang penuh arti dan nilai spiritual. Bepelas dilaksanakan sebagai bentuk pembersihan dan perlindungan bagi wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara dan masyarakatnya.Prosesi ini dilakukan secara hati-hati dengan mengikuti aturan adat yang telah diwariskan secara turun menurun dan menunjukkan penghormatan mendalam terhadap nilai-nilai leluhur

Keyakinan terhadap alam dan roh-roh leluhur yang dipercaya masih berperan dalam menjaga keseimbangan hidup menjadi acuan spiritual dalam pelaksanaan Bepelas. Selain berperan dalam ranah sosial, ritual ini juga menjadi wujud nyata dari kepercayaan bersama masyarakat terhadap kekuatan yang tidak terlihat. Walaupun hingga saat ini Erau telah disajikan sebagai pengingat dari perayaan ulang tahun Kota Tenggarong dan bersifat lebih terbuka, tetapi nilai-nilai sakral yang melekat dalam Bepelas tetap dijaga sehingga menandakan cara tradisi lokal bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan makna sejatinya.


Mengenal Tari Dewa Memanah dan Menguatkan Rasa Percaya Diri

Tari Dewa Memanah tidak hanya sekedar penyajian budaya tetapi juga menjadi gambaran proses pembentukan identitas diri dari individu yang berkontribusi di dalamnya. Tari ini mengandung banyak simbol spiritual dan sosial yang tidak hanya dirasakan oleh kelompok secara umum, namun menjadi momen penting bagi penari untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Menurut Soemanto (1998), self-concept atau konsep diri adalah pikiran atau persepsi seseorang tentang dirinya sendiri yang menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk tingkah laku. Ketika seseorang diberi kepercayaan menjadi bagian dari upacara adat yang sakral seperti penari Dewa Memanah, maka peran tersebut dapat memperkuat persepsi terhadap siapa dirinya dan citra yang dibentuk oleh penilaian orang lain.

Manusia cenderung melihat dirinya lebih baik dari kebanyakan orang lain, kecenderungan ini muncul secara halus misalnya ketika seseorang merasa dihargai karena dipercaya menjalankan peran penting. (Weinstein, 1980 & Blaine and Crocker, 1993). Penari yang dipercaya membawakan peran utama dalam ritual Bepelas tidak hanya menjalankan tanggung jawab adat, tetapi juga merasakan sebuah kehormatan yang memperkuat keyakinan terhadap potensi dan nilai dalam dirinya. Tradisi yang di wariskan secara turun menurun yang diberikan oleh tokoh adat kepada penari sebagai bentuk pengakuan yang secara tidak langsung memperkuat cara memandang dirinya sendiri, baik secara pribadi maupun sebagian dari lingkungan budaya yang dilindungi secara sadar oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari posisi penari yang dipilih secara khusus untuk memimpin bagian sakral dari prosesi Bepelas dan tanggung jawab ini menumbuhkan kebanggaan dan keyakinan untuk nilai dirinya, bukan hanya sekedar ingin menonjol melainkan karena merasa menjalankan tanggung jawab leluhur dalam tradisi yang dijunjung tinggi.

Hubungan Diri dan Budaya yang Saling Menguatkan

Ritual Bepelas tidak hanya sekedar serangkaian prosesi adat, tapi menjadi momen penting seseorang dapat merasakan kedekatan dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur. Tari Dewa Memanah menjadi bagian penting yang selalu hadir dalam prosesi ritual Bepelas. Tarian ini dibawakan oleh seorang penari perempuan yang dikenal sebagai Dewa Belian, dengan menggunakan busur dan anak panah bercabang tujuh di ujungnya yang digambarkan menyala seperti api. Penari dalam prosesi Bepelas dibawakan oleh satu orang penari perempuan yang menari mengelilingi Tiang Ayu. Ketika penari mengelilingi Tiang Ayu dengan membawa busur dan panah bercabang tujuh, terdapat kepercayaan yang kuat dari gerakan itu bukan hanya sebuah gerakan biasa tetapi penuh arti. Setiap langkah yang dilakukan merupakan bentuk penghormatan terhadap kekuatan leluhur yang dipercaya masih menyertai dan memberikan perlindungan agar terhindar dari segala gangguan. Orang yang menarikan tarian ini harus berasal dari Desa Kedang Ipil sesuai dengan tradisi yang diwariskan secara turun menurun oleh masyarakat adat. Selain disertai alunan musik dari luar, iringan juga berasal dari tubuh penari itu sendiri seperti suara tepukan tangan, vokal, atau bagian tubuh lainnya. Panah yang ujungnya bercabang tujuh bukan hanya sekedar properti tetapi menjadi simbol yang dipercaya membawa perlindungan dan menjaga keseimbangan selama jalannya ritual. Api di ujung panah juga tidak sembarangan, melainkan memiliki makna sebagai lambang kekuatan, penyucian sekaligus energi spiritual. Penari yang disebut Dewa Belian tidak hanya sekedar menari, tetapi dipercaya membawa harapan dan perlindungan bagi masyarakat yang hadir melalui gerakan-gerakan tariannya. Sajian tari ini menjadi penghubung antara manusia, leluhur, dan kekuatan tidak terlihat yang diyakini ikut menentukan kekompakan dalam kehidupan.

Ketika seseorang diberi kepercayaan menjadi seorang penari, itu bukan sekedar tampil di panggung atau mengikuti rutinitas tari. Peran ini mengandung simbol kehormatan, kekuatan, dan keberanian yang diakui secara turun menurun dalam budaya Kutai. Mulai dari proses pemilihan hingga pelaksanaan, penari melalui proses yang penuh nilai-nilai leluhur dan spiritual sehingga makna dari setiap gerakan dan tanggung jawaban mulai menyatu dengan dirinya. Markus dan Kitayama (1991) menegaskan bahwa budaya yang menjunjung tinggi ikatan sosial antarindividu dan nilai tradisi, konsep diri seseorang terbentuk melalui peran sosial yang dijalani dan keterlibatan emosional terhadap nilai-nilai yang telah diwariskan. Penari yang menari dalam ritual Bepelas maka dirinya sedang berada dalam ruang sakral bukan hanya mempersembahkan tubuhnya untuk gerakan tetapi juga meresapi nilai-nilai leluhur sebagai bagian dari jati dirinya dan mulai dari sini konsep diri atau self-concept terbentuk secara alami karena individu tidak hanya tahu siapa dirinya tetapi juga makna keberadaannya dalam tradisi yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Self-enhancement merupakan dorongan alami dalam diri seseorang untuk merasa berharga dan dihargai. Dengan menjadi penari maka perasaan itu akan muncul secara nyata. Tidak semua orang bisa menjadi penari dalam ritual ini, hanya mereka yang dianggap layak yang dapat dipilih berdasarkan garis adat dan kepercayaan secara turun menurun. Ketika seseorang dipercaya dan berhasil menjalankan peran tersebut maka penari tidak hanya tampil secara fisik tetapi juga diakui secara emosional dan sosial. Pengakuan dan rasa hormat yang di terima menjadi bentuk pengakuan yang memperkuat rasa percaya diri dan harga diri.

"Saat individu merasa dirinya penting dan dihargai oleh lingkungan, maka motivasi untuk memandang diri secara positif akan tumbuh seiring berjalannya waktu." - Sedikides dan Gregg (2008)
Apa Yang Bisa Kita Pelajari?

Tari Dewa Memanah dari prosesi ritual Bepelas bukan hanya sekedar bentuk pertunjukan seni tradisional, namun hal ini menjadi bagian penting dari upacara adat yang penuh tanggung jawab, kepercayaan, dan makna mendalam bagi masyarakat Kutai. Penari yang terpilih untuk membawakan tarian tidak dipilih sembarangan karena harus berasal dari desa tertentu dan menjalani proses yang di wariskan secara turun menurun serta dianggap mampu membawa simbol harapan hingga perlindungan.

Tarian ini bukan hanya sebagai tontonan tetapi menjadi bentuk komunikasi dengan kekuatan leluhur dan lambang penjaga keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Pada gerak tubuh dan properti seperti panah bercabang tujuh yang menyala, terdapat simbol peran yang besar dan itulah awal mula tumbuh keyakinan dalam diri penari tentang siapa dirinya dan sejauh mana penari tersebut dipercaya oleh lingkungan adatnya. Rasa bangga penari karena telah membawa nilai yang diyakini dapat memberi manfaat bagi banyak orang tidak hanya sekedar tradisi, sehingga dari pengalaman tersebut membuat seorang penari bisa merasa lebih berarti, dihargai, dan menemukan makna tentang jati dirinya.

Lewat semua tahapan tersebut yang membuat tarian ini dan ritual Bepelas memberi ruang kepada individu untuk memperkuat pandangan tentang dirinya sendiri tentang bagaimana seseorang ingin dikenang, bagaiamana cara menjalankan tanggung jawabnya, dan nilai apa yang harus disiapkan untuk di wariskan kepada generasi yang mendatang sehingga warisan ini tidak hanya sekedar menjadi pelestarian budaya melainkan dijalani dengan kesadaran dan kebanggaan yang membuat identitas budaya tetap terjaga.

Daftar Pustaka

Amalia Adhandayani, B. T. (2018). Pengaruh Self-Enhancement dan Authenticity terhadap Prediksi Diri Masa Depan. Jurnal Psikogenesis.

Auliana Rizka L, D. P., & Dr. Wisma Nugraha Ch.R., M. (2021). Pergelaran Ritual Bepelas Dalam Upacara Adat Erau Di Kutai Kartanegara.

Berry, J. W. (1999). Psikologi Lintas Budaya . Jakarta: PT. GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA.

Luthfitasari, A. R. (2018). MAKNA DAN SIMBOL TARI DEWA MEMANAH DALAM UPACARA ADAT ERAU DI KERATON KUTAI KARTANEGARA. 769-779.

Rospita Novianti, S. C. (2021). Self-Concept dengan Citra Tubuh pada Mahasiswi. Jurnal Psikologi, 15.

Sarip, M. (2020). Kajian Etimologis Kerajaan (Kutai) Martapura di Muara Kaman, Kalimantan Timur. 51.