Skip to main content

Nilai Budaya dan Emosi Dalam Keberlangsungan Budaya Adat Kwangkay Suku Dayak Tunjung dan Benuaq

Bagaimana Budaya Kwangkay Mempengaruhi Nilai Budaya dan Emosi

Budaya Adat Kwangkay Suku Dayak Tunjung dan Benuaq

Ditulis Oleh Theresa Daradesia Yayudita, Gladisti Evelyn, Indi Mulyani, Eugenia Adela Bengan Kalik · Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
KWANGKAY

Di pedalaman Kalimantan Timur, Suku Dayak Tunjung dan Benuaq melestarikan sebuah tradisi kematian yang penuh makna yaitu Budaya Kwangkay. Berbeda dengan pemakaman modern, upacara ini merupakan perpaduan antara ritual dengan unsur spiritual, seni, dan penghormatan kepada leluhur. Bagi suku Dayak Tunjung Benuaq, kematian bukanlah akhir, melainkan perjalanan roh menuju alam keabadian. Kwangkay menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia roh tersebut, tidak hanya mengantarkan kwangkay juga sebagai pemurnian roh yang bertujuan agar roh tersebut tidak menggangu keluarga yang roh tinggalkan sekaligus bentuk cinta kepada anggota keluarga yang telah pergi.

Ilustrasi
Proses pemasukan tulang belulang ke tempelaaq (peti). (Sumber: https://1001indonesia.net/kwangkay-puncak-upacara-kematian-pada-masyarakat-dayak-benuaq/)
MAKNA DARI UPACARA ADAT KWANGKAY

Suku Dayak Tunjung Benuaq menganggap budaya kwangkay ini sangat penting karena, hal ini bukan hanya upacara penguburan biasa, melainkan pengantaran roh dengan penuh penghormatan. Masyarakat Dayak Tunjung dan Benuaq percaya bahwa setelah kematian, roh manusia tidak langsung pergi. Ia tetap berada di sekitar keluarga hingga diantarkan melalui ritual Kwangkay. Kemudian roh yang telah diantarkan dengan baik akan menjadi pelindung keluarga dan membantu dalam kehidupan sehari-hari.

TAHAPAN KWANGKAY
Proses pemindahan Tulang-belulang

Proses ini di laksanakan di rumah adat, setalah proses pembokaran makam terdahulu,tulang belulang akan di bawa ke rumah adat dan akan di masukan kedalam tampelaaq (peti) kemudian di lanjutkan dengan ritual-ritual lainnya.

Ritual Ngerangkau

Pada ritual ini Masyarakat suku Dayak Tunjung Benuaq akan menari tarian ngerangkau bersama-sama sambil mengelilingi tampelaaq. Suku Dayak Tunjung Benuaq percaya, bahwa tarian ini dapat mengundang Roh keluarga yang sudah meninggal untuk menari bersama-sama. Mengikuti tarian ini juga dipercaya kita akan di ikuti oleh pedaraaq (arwah orang yang meninggal).

TAHAPAN UPACARA KWANGKAY
Dornaq Ampah (Persiapan)

Dorna Ampah sendiri memiliki artian kosong atau biasanya di sebut dengan “Laweh”, namun dapat di artikan sebagai upacara adat yang kosong tanpa adanya penyanyi. keluarga juga menyiapkan persiapan dengan mengundang “penyentangih” atau yang biasanya kita tau petugas adat khusus untuk upacara kwangkay yang terdiri dari 3-5 orang bahkan lebih tergantung pada tahapan-tahapan kwangkay. Dua di antara penyetangih diharuskan Perempuan karena berperan sebagai perantara pihak penyetangih dan pihak keluarga.

Upacara Inti

Pada tahapan ini Roh akan di berikan sedekah dan sajian, beberapa peranti (patung-patung kecil) akan di kawinkan. Ada pula persembahan korban yang ditutup dengan penguburan. Tahapan-tahapan ini berlangsung sebanyak 2 kali dalam kurun waktu 7 hari.

Upacara Penutup (persembahan korban hewan)

Pada tahapan ini bersifat membersihkan pengaruh jahat dari upacara kematian. Upacara ini berlangsung selama sekitar 1-7 hari dengan tiap tahapan-tahapan upacara yang diakhiri dengan persembahan korban binatang peliharaan, seperti berikut;

ATURAN DALAM KWANGKAY
Bagi Anggota Keluarga. Bagi Penyetangih. Bagi Masyarakat Sekitar.
Budaya dan Emosi Dalam Prespektif Psikologi Lintas Budaya Terhadap Budaya Kwangkay.

Psikologi Lintas Budaya mempelajari bagaimana budaya dapat mempengaruhi cara berfikir, merasakan dan tindakan individu. Didalam Budaya Kwangkay sendiri memiliki beberapa hal yang dapat di kaitkan dalam prespektif Psikologi Lintas Budaya.

Budaya dan Emosi.

Suku Dayak Tunjung Benuaq memiliki Emosi kolektivis yang dimana perasaan duka itu tidak hanya dirasakan oleh kelurga yang di tinggalkan, namun perasaan duka ini juga dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa duka merupakan pengalaman yang dirasakan bersama-sama.

Didalam Budaya Kwangkay memiliki banyakan tahapan seperti; tarian, nyayian, dan persembahan lainnya, yang nanti nya akan memunculkan emosi spontan yang di pengaruhi oleh budaya kwangkay. Sebagai contoh penyetangih yang mengawasi rangkaian tahapan pada Kwangkay agar emosi yang diluapkan tidak berlebihan.

Kwangkay Sebagai Mekanisme Coping.

Budaya kwangkay dipercaya dapat meredakan kecemasan dalam bentuk memberikan kepastian (apabila tahapan kwangkay dilakukan dengan benar). Selain itu, acara persembahan korban berupa hewan dapat memperkuat hubungan keluarga dengan masyarakat sekitar sehingga dapat mengurangi rasa cemas. Maka dari itu suku Dayak Tunjung Benuaq dianggap memiliki sifat kolektiv yang dimana mereka menggunakan masyarakat sebagai coping mekanisme nya.

Teori Psikologis yang Menyangkut Dengan Budaya dan Emosi Dalam Budaya Kwangkay.
Berikut beberapa teori psikologi yang digunakan untuk menjelaskan fungsi dari Kwangkay.

Teori ini berfokus pada bagaimana individu mengatasi kecemasan yang disebabkan kesadaran akan perasaan ditinggal anggota keluarga. Karena pada dasarnya manusia sadar akan kematian dan mengetahui akan meninggal sehingga timbul lah kecemasan dan teori ini dapat membantu dalam mengurangi rasa cemas tersebut.

Cassel menganggap teori dukungan sosial dapat meredakan efek stress pada individu yang di tinggalkan sehingga tidak mempengaruhi Kesehatan fisik. Disisi lain Cobb menganggap dukungan sosial sebagai bentuk perhatian kepada individu sehingga individu merasa bahwa dirinya dicintai, dihargai dan tidak sendirian.

Kesimpulan

Budaya Kwangkay mengajarkan bahwa tidak semua emosi manusia itu sama, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh budaya. Dengan mempelajari budaya kwangkay, kita dapat mengaitkan nya dengan psikologi lintas budaya dalam memahami keragaman cara manusia mengelola emosi, kesedihan, dan ketidak pastian dalam hidup, khususnya pada kematian.

Daftar Pustaka

Al Farizi, S. (2015). Social Support BAB II [Undergraduate thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang]. UIN Malang Repository. http://etheses.uin- malang.ac.id/2248/5/05410037_Bab_2.pdf

Hayes, Joseph. Pyszczynski, Tom, Sheldon Solomon, and Jeff Greenberg. "Terror Management Theory." ResearchGate (2015). https://www.researchgate.net/publication/31379 2975_Terror_Management_Theory.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. (n.d.). Upacara adat Kwangkay. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses pada (20 Juni 2025), dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/upacara-adat-kwangkay/

Deslia, Selina.( @diamondpsycho1362) "Ritual Unik: Upacara Adat Kwangkay | Psikologi Lintas Budaya | Selina Deslia" YouTube, uploaded by Selina Deslia, 24 Juni 2022, https://youtu.be/OuOWNeZL39Q.