Skip to main content

Keterlibatan Tradisi Haulan Terhadap Budaya dan Kognisi

Tradisi Haulan Masyarakat Banjar

Persepsi, Kognisi, Kesadaran dan Intelegensi

Ditulis oleh Jhosua Audrey Chrystian Djawa Mo'i, Mutiara Fatma Az-Zahra · Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Setiap daerah punya caranya sendiri untuk mengenang orang tercinta. Tapi di tanah Banjar, ada tradisi unik yang jauh lebih dari sekadar tahlilan ia adalah cermin nilai, sejarah, dan kebersamaan.

Ilustrasi

Pernah gak sih kalian ngikutin acara doa bersama yang terasa lebih dari sekadar ibadah keagamaan? Di masyarakat Banjar, ada satu tradisi unik yang sangat lekat dengan kehidupan sosial dan spiritual mereka, yaitu Tradisi Haulan. Tradisi ini bukan hanya tentang mengenang orang yang sudah tiada, tapi juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan pembelajaran sosial. Yuk, kita telusuri lebih dalam!

Apa Itu Tradisi Haulan?

Tradisi haulan merupakan acara tahunan yang diadakan untuk mengenang anggota keluarga atau tokoh agama yang telah meninggal dunia. Dalam tradisi ini, masyarakat berkumpul bersama untuk membacakan doa dan tahlil, menceritakan kembali kisah hidup almarhum.

Tapi yang menarik, di balik acara ini tersembunyi berbagai nilai penting mulai dari gotong royong, solidaritas sosial, hingga pewarisan budaya lokal Banjar.

Tujuan dan Fungsi Tradisi Haulan

Tradisi Haulan lebih dari sekedar mengenang orang tercinta, ada juga:

sesuai dengan yang di uraikan oleh fadholina dan juga abas (2023), haulan juga memberikan dampak bagi aspek ekonomi masyarakat lokal.

Haulan dalam Tinjauan Budaya & Kognisi

Dalam psikologi lintas budaya ada beberapa pandangan menarik tentang bagaimana budaya ini berpengaruh pada perilaku masyarakat Banjar. Nah tradisi haulan ini dapat dilihat sebagai bagian dari budaya yang melibatkan persepsi, kognisi, kesadaran diri, dan intelegensi budaya, berikut penjelasannya:

Masyarakat Banjar menganggap tradisi haulan itu sebagai sesuatu yang suci, bukan hanya sekedar kegiatan tahunan melainkan sebagai praktik yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, di dalam pelaksanaan nya ada beberapa nilai nilai seperti penghormatan kepada nenek moyang, dan tanggung jawab moral untuk menjaga tradisi, serta kesadaran tentang hubungan antar manusia dan Tuhan. Ada nilai-nilai religius yang melekat juga terlihat dalam seni tradisional Banjar yang tidak hanya bersifat hiburan tetapi ada juga menyampaikan pesan moral dan keagamaan. Seperti yang di sampaikan oleh Indriani (2022) nilai religius dalam seni masyarakat Banjar dapat ditemukan dalam simbolsimbol, lirik, dan gerakan yang memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, seperti tari topeng dari banjar, gerakan tangan yang membentuk seperti piramid, melambangkan perjalanan hidup menuju yang maha agung menjadi ekspresi yang juga menjadi inti dari tradisi haulan.

Pada saat kisah almarhum diceritakan masyarakat sebenarnya sedang belajar mengenai beberapa pengalaman hidup orang tersebut yang mengandung nilai-nilai moral, seperti sejarah keluarga serta norma sosial. Proses ini mencerminkan bagaimana tradisi haulan berfungsi sebagai media untuk mentransfer pengetahuan budaya yang dinamis dan diwariskan. Nilai-nilai yang didapatkan tidak hanya berupa konsep kognitif atau abstrak, tetapi tertanam melalui praktik simbolik yang berulang dan memiliki arti. Misalnya seperti yang dijelaskan oleh Suwantoko dan Wardhono (2022) budaya adalah sistem pengetahuan kolektif yang membentuk cara berpikir dan berperilaku masyarakat termasuk dalam memahami peristiwa-peristiwa sakral dan sosial. Dalam haulan pengetahuan ini bisa dilihat dalam cara masyarakat Banjar memahami apa itu kematian, mengenang jasa orang tua, dan membangun hubungan sosial antar masyarakat.

Tradisi lisan seperti tatangar Banjar bukan hanya berupa lambang kearifan lokal tetapi juga memainkan peranan yang signifikan dalam membentuk kesadaran kolektif sebuah komunitas. Melalui tradisi ini beberapa individu tidak hanya mengenali diri mereka sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga merasa memiliki kewajiban untuk menjaga warisan budaya tersebut, seperti yang diungkap oleh Nengsih (2016:100) tatanggar Banjar muncul dari pengalaman hidup yang menjadi pengetahuan bersama bagi masyarakat Banjar. Prosesnya membentuk cara berpikir dan cara hidup yang unik serta memperkuat beberapa identitas kelompok secara turun-temurun dengan demikian, tatangar tidak hanya berfungsi sebagai tanda atau pertanda tetapi juga bisa sebagai mekanisme sosial yang memastikan nilai dan norma di dalam masyarakat.

Dalam pelaksanaan haulan, masyarakat Banjar memperlihatkan kemampuan dalam berkolaborasi membagi tanggung jawab dan mematuhi norma sosial hal ini biasanya mencerminkan bentuk kecerdasan budaya yaitu kemampuan untuk memahami dan beradaptasi dalam konteks sosial berdasarkan nilai-nilai setempat (Hariyanto 2023) nilainilai tersebut mencakup gotong royong, bermusyawarah dan penghormatan kepada pemimpin agama seperti ustad, kiayi, dan para ulama, serta kepedulian sosial yang diwujudkan melalui penyediaan konsumsi tanpa biaya bagi tamu. Keunikan ini hanya ada di kalangan masyarakat Banjar karena pelaksanaan haulan tidak hanya berfungsi sebagai ritual agama tetapi juga sebagai tempat pelestarian struktur sosial tradisional. contoh: aturan tempat duduk saat haulan mengikuti urutan sosial berdasarkan usia dan seberapa dekat keluarga sedangkan makanan yang dihidangkan bukan hanya untuk dimakan tetapi juga merupakan simbol nilai sedekah dan rasa syukur, selain itu penentuan hari dan waktu pelaksanaan juga mengikuti perhitungan tradisional Banjar yang diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Semua ini menunjukkan bahwa tradisi haulan bukan sekedar ceremony melainkan merupakan representasi nyata dari nilai-nilai budaya Banjar yang masih ada di tengah perkembangan zaman sekarang ini (Hariyanto 2023).

Pernah gak kalian ikut serta dalam tradisi haulan? atau memiliki kisah menarik tentang acara budaya lokal? ayo bagikan dan mari belajar bersama sama!

Referensi

Fadholina, R., & Abas, M. (2023). Tradisi Haul dan Ekonomi Islam Lokal Banjar. Jurnal Pendidikan Ekonomi Islam, 7(1), 22–30.

Hariyanto, B. (2023). Nilai sosial dari kearifan lokal Haulan Guru Sekumpul masyarakat Banjar. Open Science Framework. https://doi.org/10.31219/osf.io/u6pke

Indriyani, P. D. (2022). Nilai-Nilai Religius dalam Kesenian Tradisional Masyarakat Banjar. Indonesian Journal of Performing Arts Education, 3(2), 45–51.

Nengsih, S. W. (2016). Tatangar Banjar sebagai Ekspresi Sistem Kognisi Masyarakat Banjar. Undas: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra, 10(1), 19–29.

Suantoko, A., & Wardhono, A. (2024). Peta Kognitif dalam Ritual Budaya Olah Tetanen Masyarakat Adat Genaharjo Kabupaten Tuban. Lingua Franca, 8(1), 11–20.