Tradisi Belimbur Upacara Erau di Kutai Kartanegara yang Memperkuat Solidaritas dan Kesehatan Mental
Belimbur adalah tradisi saling menyiram air yang dilakukan dalam Upacara Erau di Kutai Kartanegara dan sudah berlangsung selama tujuh abad. Selain sebagai bagian penting dari budaya, Belimbur juga memiliki makna psikologis yang dalam. Ritual ini melambangkan penyucian diri dari halhal negatif seperti rasa marah, dendam, dan konflik. Dengan saling menyiram air masyarakat secara simbolis membersihkan diri dan mempererat hubungan sosial antar sesama. Seperti dikutip dari kajian di Desa Kutai Lama "Belimbur menjadi momen dimana semua lapisan masyarakat bertemu dalam kesetaraan, menyatu melalui percikan air yang membersihkan sekaligus menyegarkan hubungan sosial" (Sri Devi, 2020). Tradisi ini melibatkan semua orang tanpa memandang usia, status, atau latar belakang, sehingga menciptakan rasa kebersamaan dan persatuan sesuai dengan teori Henri Tajfel (1979) kita membentuk identitas melalui kelompok kita. Tradisi Belimbur membantu masyarakat Kutai merasa lebih dekat dan bangga sebagai satu komunitas saat saling menyiram air, tubuh melepaskan hormon oksitosin yang membuat kita lebih akrab dan percaya.Saat Belimbur semua perbedaan sosial hilang pejabat dan warga biasa sama sama basah dan bahagia. Ini disebut "kesetaraan sesaat" dimana semua benar-benar merasa setara dalam kegembiraan bersama. Dengan begitu Belimbur tidak hanya menjaga tradisi tetapi juga membantu membangun keharmonisan dan kerukunan dalam masyarakat.
Belimbur merupakan tradisi yang sarat makna dalam budaya Kutai Kartanegara, di mana air memiliki arti khusus sebagai simbol pembersihan jiwa dan raga dari segala hal negatif. "Air dalam Belimbur bukan sekadar media fisik, melainkan sarana transendental yang menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur" (Sri Devi, 2020).Air dalam ritual ini juga melambangkan persamaan derajat semua orang tanpa memandang status sosial menjadi media komunikasi dengan leluhur serta menandakan kehidupan dan kesuburan yang diharapkan terus terjaga dalam masyarakat. Ritual Belimbur dimulai dengan doa adat sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah. Kemudian acara dilanjutkan dengan Belimbur, prosesi penyiraman yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari keluarga kesultanan hingga rakyat biasa. "Prosesi Belimbur ini merupakan simbol penyucian diri dari segala pengaruh jahat sekaligus bentuk permohonan perlindungan kepada Yang Mahakuasa" (Jurnal Borneo, 2024). Ritual ini diakhiri dengan makan bersama yang memperkuat ikatan sosial dan rasa kekeluargaan dalam komunitas.
Belimbur memiliki beberapa manfaat psikologi:
- Memperkuat Hubungan Sosial
Gotong royong: masyarakat bekerja sama menyiapkan air, wadah, atau makanan, yang memicu rasa tanggung jawab bersama. Ketika individu bekerja sama mencapai tujuan bersama, mereka membangun rasa saling percaya dan solidaritas. Apabila setiap orang bekerjasama ini akan mempererat ikatan sosial dalam komunitas.
Interaksi di lapangan: Kontak fisik dan interaksi emosional memicu pelepasan oksitosin yang secara ilmiah meningkatkan keakraban serta kepercayaan antara individu. Selama perayaan Belimbur, orang-orang menghabiskan waktu bersama di ruang terbuka bermain air, tertawa bersama, dan bertegur sapa menciptakan suasana hangat tanpa batas.
Kesetaraan sementara: Dalam suasana Belimbur baik pejabat maupun warga biasa merasakan kebahagiaan yang sama basah kuyup dan larut dalam kegembiraan. fenomena ini dikenal sebagai “kesetaraan situasional”.
- Baik Untuk Kesehatan Mental
Pereda stres alami karena aktivitas fisik saat bermain air dan tawa lepas memicu tubuh memproduksi endorfin (hormon penghilang stres alami) sehingga efeknya membuat pikiran lebih rileks dan tubuh terasa segar.
Memberikan ruang bagi setiap orang untuk tertawa lepas, bercanda, dan mengekspresikan perasaan gembira dengan bebas tanpa ada yang melarang atau menghakimi.
Menciptakan kebahagiaan yang lebih bermakna ketika dinikmati bersama kebersamaan ini menumbuhkan rasa diterima dalam komunitas yang secara alami mengurangi rasa kesepian sebagaimana teori Abraham Maslow (1943) menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diterima dalam kelompok.
Contoh nyata: Warga yang awalnya murung terlihat ceria dan lebih santai setelah mengikuti Belimbur.
Tradisi Belimbur dalam Upacara Erau di Kutai Kartanegara merupakan warisan budaya yang kaya makna, tidak hanya sebagai simbol pembersihan diri secara spiritual dan sosial tetapi juga sebagai sarana penguatan hubungan antarwarga. Nilai-nilai psikologis yang terkandung dalam tradisi ini membantu meredakan tekanan, memperkokoh rasa setia kawan, dan menumbuhkan rasa satu sebagai warga. Dari sisi budaya Belimbur memperkuat jati diri bersama dan menjaga kebijaksanaan lokal yang menghubungkan kita dengan pendahulu dan lingkungan. Dengan melibatkan setiap orang tanpa melihat perbedaan,tradisi ini menekankan pentingnya kesetaraan dan persatuan sebagai dasar dari kedamaian di Kutai. Maka dari itu menjaga tradisi Belimbur bukan hanya penting sebagai bagian dari warisan budaya tetapi juga sebagai usaha menjaga kesehatan mental dan sosial warga Kutai sekarang dan nanti.
Daftar Pustaka
Festival Erau sebagai Kearifan Lokal Budaya Masyarakat Adat Kutai, http://humanisa.my.id/index.php/hms/article/download/209/251/392
Kajian tentang Tradisi Berlimbur pada Budaya Erau di Desa Kutai Lama, http://ejournal.ps.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2020/10/SriDevi%20(10-22-20-11-49-40).pdf
Keterlibatan Generasi Muda Pada Penerapan Tradisi Belimbur Upacara Erau di Desa Kutai Lama, https://journal.pipuswina.com/index.php/jippsi/article/download/89/62/969
Pelestarian Upacara Adat Erau di Kabupaten Kutai Kartanegara, https://jrp.kaltimprov.go.id/index.php/jrp/article/download/119/79
Tradisi Mengulur Naga dan Belimbur Menjadi Puncak Kemeriahan Erau 2024, https://jurnalborneo.com/tradisi-mengulur-naga-dan-belimbur-menjadi-puncak-kemeriahan-erau-2024/