Cinta yang Berlari dari Rumah: Analisis Psikologi Lintas Budaya terhadap Fenomena Silariang, Gengsi, dan Identitas Budaya pada masyarakat Bugis
Halo teman-teman jadi kami disini akan menjelaskan tentang apa itu fenomena silariang. Mungkin teman-teman masih asing banget nih sama fenomena silariang, bisa teman- teman lihat di gambar-gambar diatas itu adalah gambaran dari fenomena silariang. Buat penjelasan lebih lengkapnya yuk teman-teman baca penjelasan lebih lengkap nya dibawah ini yaa.
Kenapa sih silariang ini bisa terjadi? Silariang ini bisa terjadi karena adanya dua pasangan yang saling suka & mencintai satu sama lain tapi terhalang oleh restu orang tua. Biasanya sih, alasan orang tua gak ngasih restu bukan karena gak sayang anaknya, tapi lebih ke urusan kayak beda derajat sosial, uang panai yang kadang memberatkan pihak cowok, sampai selisih paham antar keluarga. Hal-hal beginilah yang bikin banyak pasangan akhirnya dilarang nikah secara resmi. Gara-gara itu juga, mereka jadi pilih jalan silariang sebagai pelarian cinta terakhir. Tapi yang namanya silariang, itu jelas udah keluar dari jalur adat yang dari dulu udah jadi pegangan dalam urusan nikah. Harusnya sih, kalau mau sah dan diterima, semua prosesnya lewat tata cara adat dulu, bukan langsung kabur begitu aja.
Bagi orang Bugis-Makassar, nikah itu enggak bisa dianggap urusan pribadi doang. Soalnya, selain soal perasaan, ada gengsi keluarga dan kehormatan yang ikut dipertaruhkan. Ketika hubungan anak muda bertentangan sama norma adat, muncul deh praktik silariang. Fenomena ini mirip kayak “perlawanan cinta” yang dilakukan diam-diam tapi punya efek besar. Akibatnya bukan cuma keretakan hubungan antar keluarga, tapi juga munculnya cap negatif, khususnya untuk perempuan. Nah, tulisan ini mau ngulik jauh soal fenomena itu.
Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi lintas budaya, kasus silariang ini sebenarnya nunjukin benturan antara nilai budaya sama keinginan pribadi. Di Bugis-Makassar, urusan cinta enggak bisa semata-mata ditentukan sama hati doang, karena ada norma adat dan gengsi keluarga yang juga ikut campur. Nah, pas anak muda nekat kawin lari karena cintanya enggak direstui, itu udah termasuk bentuk perlawanan terhadap sistem budaya yang ketat banget.
Beberapa teori yang relevan dalam psikologi lintas budaya yang nyambung sama fenomena ini antara lain:
- Individualisme vs Kolektivisme – Hofstede
Di Bugis-Makassar, urusan besar kayak nikah tuh gak bisa lepas dari campur tangan keluarga dan aturan adat. Semua harus sesuai nilai-nilai yang udah turun-temurun. Nah, silariang muncul karena anak muda kadang lebih nurut sama isi hatinya daripada patuh ke adat. Jadinya bentrok deh antara rasa dan aturan.
- Teori Identitas Sosial
Di masyarakat kolektif, identitas seseorang itu nempel banget sama keluarganya. Jadi pas ada yang nekat nikah tanpa restu, otomatis dianggap mencoreng nama baik keluarga. Apalagi kalau yang melanggar itu Perempuan cap buruknya bisa lebih berat karena dianggap melanggar kehormatan.
- Kognisi Budaya
Gimana orang nilai sesuatu itu benar atau enggak, semua balik lagi ke budaya yang dia anut. Di kalangan yang adatnya kuat, silariang udah pasti dianggap tindakan keliru—karena dinilai nyimpang dari aturan yang mereka pegang teguh.Tapi dari sudut pandang pelaku, bisa aja mereka merasa itu bentuk cinta yang tulus dan perjuangan. Di sini kelihatan banget kalau budaya itu ngaruh banget ke cara orang menilai sebuah tindakan.
- Tight vs Loose Culture – Gelfand
Budaya Bugis-Makassar bisa dibilang “tight”, alias ketat sama aturan. Di budaya kayak gini, pelanggaran norma, termasuk nikah tanpa restu bisa dapat reaksi sosial yang keras. Makanya, meskipun dilakukan diam-diam, silariang tetap jadi isu besar dan bisa bikin konflik antar keluarga.
Daftar Pustaka
Gelfand, M. J., Nishii, L. H., & Raver, J. L. (2006).
Indrayanti, I. & Duma, I. (2021). Silariang: A Hindered Love. Jasima FISIP Unmul.
Nonci, N., Harifuddin, H., & Azuz, F. (2023). The dialectic of globalization and social transformation of Silariang in Makassar, Indonesia. ETNOSIA, 8(1), 127–144.
Ramdhani, A. R., Muhammad, S. T., & Sulasmi, D. S. (2017). The Decision Making of Silariang. Hasanuddin University Journal.
Salle, S. & Wahab, M. (2022). Analysis of Positive Legal Sources on the Implementation Bugis Customary Sanctions of Makassar for Silariang Actor.